Pages

Semangat Belajar yaaa...

Wednesday, August 8, 2018
Tak selamanya kita belajar hanya di bangku sekolah. Sebenarnya setiap saat kita bisa belajar. Di mana pun dan kapan pun.
Ada cerita menarik dari seorang kawan. Beliau ini adalah seorang dosen. Mempunyai keluarga dan anak. Saat ini usia anaknya sekitar 13 tahun. Dan masih duduk di bangku SMP kelas 1.
Kawan saya ini sebut saja namanya Nining. Ya, Bu Nining ini ingin mengajari anaknya berwirausaha. Lebih tepatnya buka warung makan.
"Zaman sekarang lho mas, kalau kita cuma mengandalkan pinter matematika aja gak bisa", cerita beliau ke saya. "Saya ingin mengajari anak saya supaya bisa berinteraksi dengan orang lain", imbuhnya. "Bagaimana cara melayani pelanggan, ramah terhadap pelanggan, berkomunikasi dengan pelanggan", pungkasnya.
Intinya buka warung ini bukan semata-mata cari uang. Tapi lebih ke bagaimana dengan usaha ini sebagai sarana belajar dan mengembangkan diri. Semoga sedikit cerita ini bisa menginspirasi.

Surabaya, 8 Agustus 2018

Akhirnya Kami Menikah Juga

Friday, April 22, 2016
5 Oktober 2015 adalah moment spesial bagiku. Karena hari itu adalah hari pernikahanku. Hari pernikahan yang sudah lama aku tunggu. Aku pun tidak menyangka bisa menikah dengannya. Dengan seorang wanita yang kami belum saling mengenal sebelumnya.
Wanita itu bernama Syafitri Elistia Masrurroh. Dia adalah alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Mengambil jurusan kedokteran hewan.
Awal saya tahu dirinya memang sudah lama. Kurang lebih tujuh tahun sejak tulisan ini diterbitkan. Tetapi kami sekedar tahu. Cuma itu saja. Jangankan saling mengenal, ngobrol pun kami tidak pernah. Aku tahu dirinya waktu di masjid saja. Karena waktu SMA aku pernah mondok di dekat rumahnya. Dan rumahnya pun dekat dengan pondok. Pertemuan kami waktu itu sewaktu masih SMA. Aku kelas tiga dan dia kelas dua.
Aku sedikit tahu tentang dirinya dari Ustadzahku. Ustadzahku pernah cerita tentang dirinya. Beliau bercerita kalau ada anak yang pintar mengaji. Baca Qur'annya bagus. Lebih tepatnya dia adalah seorang qori'. Sering mengikuti lomba MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur'an).
Sampai pada masanya aku lulus dan kerja di Jakarta. Waktu aku pulang ke pondokku dulu, Ustadzahku masih cerita tentang dirinya. Cerita tentang dirinya yang sekarang masuk kuliah di UGM.
Kepulanganku waktu itu memang untuk kuliah. Setelah kerja satu tahun di Jakarta aku ingin kuliah lagi. Karena kuliah adalah mimpiku yang sudah lama aku pendam. Setelah lulus SMA Ustadzku pernah menyarankanku untuk langsung kuliah. Tetapi aku tidak langsung mengiyakan. Karena waktu itu aku ingin kerja dulu. Sekalian untuk cari modal untuk kuliahku nanti. Supaya tidak terlalu membebani orang tuaku. Setelah satu tahun kerja, aku pulang dan memutuskan untuk kuliah di Surabaya. Dan pada akhirnya yang awalnya kami beda angkatan akhirnya menjadi satu angkatan. Ya, kami kuliah angkatan 2009.
2013 kami sama-sama lulus. Walau pun begitu kami belum kenal juga. Sampai akhirnya waktu itu tiba. Dan aku merasa sudah saatnya untuk menikah. Aku teringat sesosok wanita yang sering diceritakan Ustadzahku dulu. Tanpa berfikir panjang, aku mengutarakan keinginanku kepada orang tuaku. Dan mereka pun setuju.
Aku ingin menikah tanpa adanya pacaran terlebih dahulu. Sehingga aku langsung mendatangi orang tuanya. Saya bilang ke bapaknya " Pak, saya ingin menjalin hubungan yang serius dengan putri Bapak, apakah Bapak mengizinkan?". Beliau pun merestui kami. Langsung aku mengiginkan untuk menikah segera. Supaya tidak terjadi fitnah. Tetapi Bapak tidak langsung mengiyakan. Bapak memberikan waktu enam bulan sejak pertama aku ke rumah beliau. Tetapi tak apa. Karena setelah enam bulan itu, alhamdulillah kami menikah...

Surabaya, 22 April 2016

Aktivitas mulai sejak bangun tidur

Saturday, November 15, 2014
Ada sebuah cerita dari seorang guru dari badan latihan kerja (BLK), yang pernah mengajar saya. Beliau bercerita tentang kehidupan seorang pembantunya waktu beliau masih kecil. Kalau dalam istilah jawa ngenger. Ikut orang kaya untuk mendapatkan makan, tempat tinggal, dan upah sekedarnya.
Tapi, sekarang orang yang dulunya seorang pembantu ini telah menjadi orang kaya. Bahkan kekayaannya melebihi kekayaan majikannya dulu. Kemudian guru saya ini bertanya kepada orang tersebut. Apa rahasia dia menjadi sukses. Jawaban orang tersebut sederhana, "orang yang ingin sukses, harus bekerja dari bangun tidur sampai sebelum tidur lagi".
Sungguh Islam mengajarkan kita memulai aktivitas sebelum umat lain beraktivitas. Bangun pada sepertiga malam untuk mengajukan permohonan kepada Robbnya. Setelah itu sholat subuh lalu memulai untuk bekerja. Seandainya umat ini memaksimalkan waktu ini, umat Islam akan jaya. Wallahu a'lam bish showab

menjemput jodoh dunia dan akhirat

Monday, September 15, 2014
Jodoh adalah Rahasia Allah. Manusia tidak bisa menentukan siapa jodohnya tapi wajib untuk menemukannya (ikhtiar). Jodoh kita adalah Cerminan Diri kita. Benarkah demikian? Mari kita telusuri dari
arti yang sangat sederhana, “Jodoh” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti
1. orang yg cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup; imbangan.
2. sesuatu yg cocok sehingga menjadi sepasang; pasangan.
3. cocok; tepat.”
Jadi, jika kita menginginkan jodoh yang soleh/ solehah, baik, dan kriteria calon penghuni surga. Maka kita wajib bercermin pada diri kita, apakah kita sudah soleh / solehah, baik, dan kriteria calon penghuni surga juga ? Mengapa demikian? secara logis dan psikologis seseorang yang taat beribadah tidaklah mungkin suka dengan seorang pemabuk, penjudi, pencuri, atau penjahat. Orang yang baik secara umum akan berjodoh dengan orang baik pula, begitu juga sebaliknya. Hal ini merupakan Sunnatullah (hukum Allah). Sebagaimana
janji Allah dalam Al-Quran Surat An-Nur Ayat : 26 Artinya: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki- laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki- laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)” ( QS. An-Nur: 26).
Selanjutnya upaya pertama untuk mendapatkan jodoh terbaik adalah dengan memantaskan diri dihadapan Allah dengan cara memperbaiki diri secara terus menerus, jika diri kita baik maka Allah akan menjodohkan kita dengan orang baik pula.
Jika memang belum saatnya tiba, maka masa penantian adalah waktu terbaik untuk mengejar impian, belajar dan berusaha menjadikan diri kita insan terbaik dihadapan Allah. Lalu berdo’alah terus kepada Allah. Hadits
dari Imam Turmudzi dan Hakim, diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi Muhammad SAW Bersabda : “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdo’a, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya do’a bermanfa’at bagi sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak taqdir kecuali do’a, maka berpeganglah wahai hamba Allah pada do’a” ( HR Turmudzi dan Hakim).
Konsep jodoh dalam Islam tidak hanya menyangkut seseorang yang akan mendampingi kehidupan didunia saja, tetapi juga berkaitan sampai di akhirat nanti. Seorang suami/ imam yang baik adalah yang berhasil mengantarkan keluarganya (Istri dan Anak-Anaknya) sampai ke Surga dan terhindar dari Api neraka. Jadi inilah konsep Islam tentang pentingnya kita mendapatkan seorang Jodoh yang tak hanya memberi kita kebahagiaan di dunia saja, tapi juga di akhirat. Wallahu a'lam bish showab

Nutrisi untuk otak

Nutrisi untuk otak yang bisa menenangkan dan menguatkan fungsi jantung dan otak, antara lain dengan mengkonsumsi:
  • Madu 3 x 2 sdm (sendok makan) sehari
  • Beepolen 2 sdm sehari
  • Omega 3,3 x 2 kapsul sehari
  • Teh pegangan 2 sachet sehari
  • Air Kangen Ph 9 sebanyak 3 gelas besar sehari (1000 ml)
Selain itu, minumlah coklat hangat yang dicampur madu dan jahe untuk memberikan ketenangan pada emosi. Sementara untuk menguatkan jantung, dapat mengkonsumsi minuman jus apel + wortel.

Nikah? Siapa takut

Monday, June 2, 2014
Nikah menurut sebagian orang adalah sebuah titik balik dalm sebuah kehidupan. Maka wajar ketika ada teman atau saudara yang menikah, sering terucap do'a "Selamat menempuh hidup baru".
Lantas apa sebenarnya pernikahan itu. Pernikahan adalah perjanjian antara dua manusia (lelaki dan perempuan) untuk saling menyayangi, mencintai, dan saling bertanggung jawab. Apalagi tugas seorang suami sangatlah berat. Bukan saja bertanggung jawab atas dirinya, tapi juga pada keluarganya. Dan bukan hanya memepertanggungjawabkan di dunia, tetapi juga bertanggungjawab di depan Tuhannya.
Pernikahan dalam Islam, hukumnya adalah sunnah. Tapi dapat menjadi wajib, makruh, atau bahkan haram. Pernikahan itu menjadi wajib manakala seseorang telah mampu untuk menikah dan dia takut terjerumus ke dalam dosa, maka hukum nikahnya adalah wajib. Menjadi makruh, manakala seseorang belum mampu untuk menikah (belum siap nafkah lahir dan batin). Dan menjadi haram, tatkala seseorang menikah dan dikhawatirkan akan menyakiti pasangannya.
Menikah sering digambarkan dengan keindahan dan kebahagiaan. Walaupun demikian ada sebagian orang yang takut dan enggan untuk segera melaksakan sunah rasul tersebut. Adapun ketakutan itu adalah perasaan gelisah, khawatir, dan takut bayangan yang tanpa alasan. Takut tidak bisa memberikan nafkah dan sebagainya. Untuk makan sendiri saja masih kurang apalagi menafkahi anak orang. Belum lagi nanti kalau sudah punya anak, maka tanggung jawab pun semakin besar. Padahal janji Allah Swt dalam firman-Nya: "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS: An-Nur: 32).
Lalu sebagai seorang pemuda, mana yang kita pilih. Takut menikah karena bayangan tidak bisa menafkahi anak istri? atau meneyegerakan menikah karena janji Allah yang akan mencukupkan orang yang menikah.
Terlalu berani menikah dan belum ada penghasilan juga salah. Yang benar adalah mempersiapkan dengan baik pernikahan itu dengan bekerja dan berusaha. Untuk segera melaksanakn pernikahan dan segera merasakan hidup yang penuh dengan keberkahan. Wallahu a'lam bish shawab.

Panceng, Gresik, 2 Juni 2014
 

ROQIT'S BLOG Copyright © 2010-2014 | Powered by Blogger